doa
Thursday, March 31st, 2005kusampaikan doa untuk keponanaku yang baru saja dikhitan. Doa keselamatan, kesejahteraan, dan do’a keshalihan semoga engkau menjadi anak yang sholeh berguna bagi agama.. amiin
kusampaikan doa untuk keponanaku yang baru saja dikhitan. Doa keselamatan, kesejahteraan, dan do’a keshalihan semoga engkau menjadi anak yang sholeh berguna bagi agama.. amiin
House, dibangun dengan tangan sedang home dibangun dengan hati, demikian bunyi pepatah lama inggris. Disana, house dimaksudkan sebagai rumah fisik; sedan home dimaksudkan sebagai rumah batiniah tempat kita merasa tentram dan betah. Dalam cerpennya, Asrul Sani pernah memimpikan "sebuah rumah yang bersih dan lampunya terang"– kata lain dari home swee home. Siti Nurbaya, ditulis Marah Rusli dengan sebuah antusiasme: kaum muda menyemai cinta kasih sendiri, dan mereka melakukan perlawanan terhadap adat lembaga (kawin paksa, diantarany) yang di jaga kaum tua. Kisah Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri berakhir tragis, anak muda dengan cinta yang membara itu, tak berhasil membangun sebuah rumah tangga.
Kegagahan muda dan tragis homeless ini terus berlanjut. Chairil Anwar meraungkan
ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.
(sajak "Sia-sia")
Rintik hujan turun saat kepulanganku dari Bandung, hanya tatapanku berlalu dibalik jendela mobil menyaksikan gemercik hujan yang terasa perlahan kian deras. Ada kenyataan, bahwa jiwaku terasa rapuh walau hanya menyaksikan setitik air yang turun dari langit tapi ia mampu menghabiskan sisa-sisa terik matahari disiang hari. Angin berkelebat menampar mukaku beberapa kali, laju mobil angkot jurusan Cileunyi-Cahem berlaju kencang memuncakkan keresahanku untuk sampai di kostanku, Akhirnya setelah digalaukan oleh fikiranku sendiri sampai juga di kostanku "Padepokan Sumber Mulya".
Ada kenangan yang menyesakkan dada, tak kuasa rasanya ingin menangis. Kalau saja bukan karena orang-orang yang lewat dan nongkrong dijalan maka aku ingin menangis tersedu-sedu. Kostanku yang sekarang tinggal berumur satu hari lagi banyak meninggalkan kenangan dan kegetiran. Kenangannya adalah saat aku mengalami perubahan untuk mengenal dunia baru bersentuhan dengan dunia kemelaratan, sosialis, teater, sastra, bahkan libido dan lain sebagainya. Sedangkan kegetirannya adalah gegar budaya telah melencengkan cara pandang dan beralih pada pemikiran yang sengaja atau tidak telah terkonfrontasi sejak dahulu kala, sejak aku mengenal mana pemikiran Islam dan mana pemikiran bathil (klo bukan Islam, berarti bathil).
Angin sore berhembus menggoyangkan dedaunan pepohonan. Daun yang sudah tua dan menguning terbang mengikuti arah angin. Ada suara gesekan serumpun bambu, diikuti oleh kepakan burung manyar terbang jauh ke langit menembus batas pandang mata. Aku hanya tertegun, sekilas memandang burung manyar terasa iri dan ingin terbang meningalkan seluruh kedunguan dan kepongahan hidupku untuk mengawali hidup baru lebih baik.
Remang rembulan memantulkan cahaya samar pada permukaan sungai yang mengalir tenang. Berseliweran kelelawar menari-nari diatas permukaan air mengambil siluet dengan latar alam yang hening dan dingin. Rimbun pepohonan berderet sepanjang aliran sungai itu. Akarnya yang menancap kokoh memberikan daya resapan tinggi untuk kesuburan tanah disekitarnya. Dahannya menjulur ke arah sungai, seolah-olah akan menggapai dahan pohon diseberang.
Angin berhembus menimbulkan suara derit pohon bambu yg bergesek pelan. Sesekali terdengar cericit kelelawar berebutan mangga matang beberapa saat kemudian terbang meninggalkan kulit buah mangga yang masih menempel di dahan pohon.
Maafkanlah, tak da yang bisa kukenang disini,
selain fantasi
yang akan mengerek tubuhku menjadi umbul-umbul
dan sobekan, yang berkibaran sepanjang
plaza
hotel-hotel, bank-bank, bergegas menimbun
harapan-harapan
yang dikalengkan. Tapi, sekali lagi aku ingin menepi
mamandang dari kejauhan; dibawah hujan yang
berduri
dan segala berkemas, mengajakku untuk bunuh diri
::Ahmad Syubhanuddin Alwy dalam sajaknya “Fantasia Cirebon.”::
Tak ada pepohonan di tanah kota
Yang tak terbakar nafsu manusia. Maka itu
Mari loncat dari mimpi;
Tak bisa kamu menanam padi di lapangan tenis
::Soni Farid dalam sajaknya Literatur kota::
Kupilih sepi,
meski yang ia tawarkan
hanya sepatah kata mati
kupilih sepi,
meski yang ia berikan
hanya sebilah belati.
kupilih sepi,
meski hidup
hanya telaga tanpa air suci
::Ahmad Julden Erwin, dalam sajaknya “Spiritualitas Sepi”. ::
Jika cinta itu angin, rentangkan layarku pada udara yang tak panas dan tak dingin
Jika cinta itu laut, layarkan perahuku pada ombak yang tak badai dan tak mati.
(Ahmadun Y Herfanda, 1980 dikutip dari buku “Sastra Dalam Empat Orba”, Bentang:2001)