rintik hujan
Rintik hujan turun saat kepulanganku dari Bandung, hanya tatapanku berlalu dibalik jendela mobil menyaksikan gemercik hujan yang terasa perlahan kian deras. Ada kenyataan, bahwa jiwaku terasa rapuh walau hanya menyaksikan setitik air yang turun dari langit tapi ia mampu menghabiskan sisa-sisa terik matahari disiang hari. Angin berkelebat menampar mukaku beberapa kali, laju mobil angkot jurusan Cileunyi-Cahem berlaju kencang memuncakkan keresahanku untuk sampai di kostanku, Akhirnya setelah digalaukan oleh fikiranku sendiri sampai juga di kostanku "Padepokan Sumber Mulya".
Ada kenangan yang menyesakkan dada, tak kuasa rasanya ingin menangis. Kalau saja bukan karena orang-orang yang lewat dan nongkrong dijalan maka aku ingin menangis tersedu-sedu. Kostanku yang sekarang tinggal berumur satu hari lagi banyak meninggalkan kenangan dan kegetiran. Kenangannya adalah saat aku mengalami perubahan untuk mengenal dunia baru bersentuhan dengan dunia kemelaratan, sosialis, teater, sastra, bahkan libido dan lain sebagainya. Sedangkan kegetirannya adalah gegar budaya telah melencengkan cara pandang dan beralih pada pemikiran yang sengaja atau tidak telah terkonfrontasi sejak dahulu kala, sejak aku mengenal mana pemikiran Islam dan mana pemikiran bathil (klo bukan Islam, berarti bathil).
Angin sore berhembus menggoyangkan dedaunan pepohonan. Daun yang sudah tua dan menguning terbang mengikuti arah angin. Ada suara gesekan serumpun bambu, diikuti oleh kepakan burung manyar terbang jauh ke langit menembus batas pandang mata. Aku hanya tertegun, sekilas memandang burung manyar terasa iri dan ingin terbang meningalkan seluruh kedunguan dan kepongahan hidupku untuk mengawali hidup baru lebih baik.
March 29th, 2005 at 3:17 am
alus euy blogna. meni nyastra pisan. urang ge eleh nyastrana!