cinta jatinangor

Malam hari jam 08.30 sampai di Jatinangor. Bus Bhineka yg kutumpangi sudah berlalu dengan kencang meninggalkan kelengangan jatinangor. Angin malam yang terasa dingin bertiup, lampu-lampu jalan berpijar menerangi sekelilingnya, bayangan orang yang berjalan ditrotoar mengingatkan pada kesadaran bahwa Aku sudah sampai di Jatinangor. Entah kapan aku bisa meninggalkan Jatinangor. Sebuah pertanyaan yang sulit aku jawab. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari emosi yang tiba-tiba meledak karena dorongan asmara, cita-cita dan lain sebagainya. Jawabannya, hanya tatapan mata menerawang ke langit penuh bintang, nampak rembulan yang redup terhalang oleh awan. Dibalik gedung STPDN ada segerombolan kelelawar yang terbang dibawah sinar matahari. “budak leutik bisa ngapuung, babakuna pungna peuting, nguriling kakalayangan…” nyanyian itu begitu akrab terdengar walau sebenarnya hanya sepi. Nyanyian yg biasa didendangkan dalam budaya pedesaan, saat memomong bayi atau anak kecil untuk malam panjangnya. Rasa harupun menyeruak, teringat masa-masa kecilku bermain petak umpet dibawah sinar rembulan mengejar bayang-bayang sendiri.
Langkah kaki ini terasa berat, pikulan bathin yang menindih jiwa menyesakkan dada surut kembali ke Tempat kelahiranku dan berkeluh kesah tentang hidup di perantauan.

One Response to “cinta jatinangor”

  1. Muhammad Says:

    Jatinangor adalah tempat penuh kenangan. Suatu hari nanti, kamu pun akan merindukannya.

Leave a Reply