testi 4 Hidayah
Malam nan sepi, hanya terdengar desah angin malam dalam kesunyian. Dinginya malam oleh kabut gunung geulis menyebar rata sampai keperkampung pelosok jatinangor, sampai kampus-kampus dengan rimbun disekitarnya pepohonan yang bergerak-gerak mengikuti arah mata angin berhembus. Dalam keremangan bulan menitik air mata suci kekhusyuan menghadap sang maha kuasa, berdialog penuh kelembutan dan memohon untuk eratnya persaudaraan kaum muslimin dan muslimat dalam ikatan ukhuwah Islamiyyah.
Malam semakin pekat, suara gemercik air jelas terdengar, lirih lagu yg berdendangkan nostalgia era tahun 70an mengingatkan pada kisah romantis Romie dan Juliet.
Malam ini Aku masih memijit-mijit keyboard membentuk kalimat dalam uraian kata yang menyambung. Sungkan untuk meninggalkan malam karena rasa ingin mengeluarkan seluruh pikiran dalam benak untuk shohibku yg saya hormati, Hidayah. Seluruh do’a kupanjatkan semoga kita bisa menjalin persaudaraan dalam persahabatan.
Jalannya gontay, mengenakan busana muslimah dengan corak dan warna matching. Walau panas terik matahari menyengat kulit, namun saat berpapasan wajah ada senyum khas sedap dipandang mata membuat suasana yang panas menjadi dingin, hati yang gelisah terasa damai. Beruntung orang bisa menjadikan tambatan dan penata hati.
Intonasi suaranya lirih bernada malayu serumpun dengan bahasa Indonesia. Rasa persahabatanpun dimulai dengan bercakap-cakap penuh dengan akrab dan rasa persaudaraan. Aku memiliki rasa persahabatan yang kental, semoga abadi dan bisa kutemui pada yang lainnya. Berulang-ulang… Amiin !..