Testi buat Pipit “Yuliana”, Riau

Saat senja mulai tiba. Beterbangan burung-burung merpati mengepak sayap 13296466035329l menuju arah timur. Awan perlahan bergerak menghalangi sinar matahari yang meredup. Sore itu kulihat langit berwarnakan jingga. Memberikan warna-warni untuk keindahan alam menjelang malam. Dari jarak yang paling jauh, kupandangi matahari yang terasa cantik dibanding siang hari yang teriknya bagai padang pasir. Disini Aku merasa betah. Berdiri mematung dan terus memandanginya.

Dalam pandangan hening kutemukan ketentraman bathin, angin yang berhembus mendinginkan kebuntuan berfikir. Segala kegelisahan, keputus asaan tenggelam bersama matahari yg ditelan bumi.

Usai maghrib, lampu-lampu di Jatinangor padam. Listrik mati ?!, serentak ada kekecewaan nampak pada wajah yang hilang dalam gelap, hanya terdengar suara keluhan. njrit ! word gw blom di save!.. fs gw belom di log out !.. ampun dah ! lagi download !.. sumpah serapahpun banyak terucap untuk jatinangor yg suka mati lampu mendadak, mirip adegan film hollywood suasana menjadi ribut.

Tapi malam itu, malam yang cukup mengesankan. Sesudah listrik kembali hidup, Pipit ma Icha manda datang. Tampak dari wajahnya ada aura kelelahan terpoles dalam keceriaan dan senyum khas Pipit. Dari sana kita mulai berkenalan, dengan diawali oleh film-film klasik dan indi di Batu Api sampai dengan Pesantren Semiotik lewat buku karya Eriyanto "Analisis Framing" di IAIN SGD Bandung. Lalu kenalan ma Icha Manda. Weh senangnya punye kenalan baru !.. hehehehehe… Tapi emang klo ngobrol ma Pipit pasti nyambung. Soalnya, temen-temennya itu adalah temen-temen gw juga di capoeira. Hmm… Pit, ayoolaah main capoeira !.. gak masalah mau belajar ma siapa ajah, yg jelas: capoeira e capoeira.

Leave a Reply