Archive for June, 2005

See U Again

Wednesday, June 22nd, 2005

Mestre_mestre_small Mestre pulang sekitar jam 11.30 WIB dari Bandung, tepatnya dari Perum Bumi Batu Nunggal Jl. Soekarno Hatta. Bercucur air mata mengiringi langkah menuju pesawat. Sekali tolehan, ia menatap lekat-lekat. Menghitung wajah sayup bersahaja selama 5 hari melayaninya.

Air Hujan mulai menetes, mengundang gerimis iringi kepergian mestre. Dalam kelengangan, sesaat kudengar intonasi seorang bijak menyusup dalam sosok mestre memberi nasihat layaknya orang tua pada anaknya. Ia telah mengajari kita bagaimana bersikap dalam setiap hari. Mencoba membentuk karakter hidup yang tahan derita. Dengan tidak mengingkari rasa kemanusiaan, maka ia memberi contoh tauladan lain yang walau dalam kemiskinan dan kerasnya hidup mengarah pada kriminalitas tapi ia bisa bertahan dengan cara hidup bermoral, beretika dan bermanusiawi.

Tanpa disadari air mata meletup dan berkubang lalu jatuh mengalir deras ke pipi. Mestre selalu dihatiku.

jejak

Tuesday, June 21st, 2005

Saoraja_1_fotophpMelihat bayang-bayang sendiri dibawah rembulan, melihat wajah dan bentuk sendiri dibawah kaki yang tertutup genangan air.
Disana kita mulai bercermin dengan menatap bayangan sendiri, melihat jejak perjalanan yang pernah ditorehkan. Adakah jejak yang masih nampak, atau hanya terlihat lalu hilang terhapus oleh ombak kecil pesisir pantai. Biarkan.. biarkan.. jejak itu mengering oleh terik matahari. Seperti jejak petani di sengkedan sawah yang mengering terkana terik matahari.

Mestre Come To Us !

Sunday, June 19th, 2005

Mestre 17, 18, 19 Juni 2005 adalah hari yang dijanjikan bertemu dengan Mestre Itabora dari grupo Axe, Canada Amerika Serikat.
Malam kedatangannya adalah malam keresahanku. Terlintas dalam bayangan, saudara yang sudah lama tak jumpa bertemu kembali dalam rumah yang suasananya sama dengan yang dulu. Kamis malam (17 Juni 2005), adalah malam yang terasa terombang ambing rasa dan perasaanku.. Menunggu Mestre Itabora, menunggu dan menunggu sampai letih pikiranku lalu ada seringai bahwa besok Aku harus sehat bisa mengikuti latihan bareng Mestre Itabora.

ono opo iki ?

Monday, June 13th, 2005

flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu

apa arti semua ini ?… idung gw mampe, batuk-batuk, uang gajian dikit, skripsi belom kelar juga, badan sakit-sakit.. aduuh biyuung opo iki !.. ono opo sebenere.. yen urip kudu ono perjuangane…

KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL

Friday, June 10th, 2005

(untuk adinda: Khaerunisa)

Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil

Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar

: aku bertanya pada diri sendiri

benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi

Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri

: sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong

Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku

Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli

: aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya.
Ini negeri melimpah, gemerlap.
Ini negeri cinta

Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini

Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya

Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.

: aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil

(Abdurahman Faiz, 7 Juni 2005)

T A T I N

Tuesday, June 7th, 2005

Tatin itu temen baruku. Tadi pagi aku melihat keceriaannya turun dari angkot Sumedang-Cileunyi. Mengenakan gaun berwarna coklat muda, berkerudung putih. Saat kutatap, ada senyum khas persahabatan menyapaku lalu dibalas dengan senyum yg lekat seraya memanggil untuk singgah sejenak ditempatku. Ditempatku ?! .. ditempat yg mana ?.. aku gak punya tempat tinggal. Aku hanya, perantau jalanan  yang biasa menyandarakan pungguh lalu tertidur untuk menghilangkan letih dimanapun berada.
Tapi saat kutatap kerling bola matanya, Aku merasakan ia singgah ditempatku.. tempat dimana tidak hanya dibentuk oleh tembok, tiang dan lain sebagainya. Tapi, tempat yang dibentuk oleh jiwa dan raga. Bathin ini telah menjadi pondasi ketentraman dan kenyamanan saat bersama.
Tatin adalah sahabatku, aslinya dari Majalengka seperti aku. Cuman dia tinggal di Rajagaluh, dan aku tinggal di Jatiwangi.