ono opo iki ?

June 13th, 2005 by kimud

flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu-flu

apa arti semua ini ?… idung gw mampe, batuk-batuk, uang gajian dikit, skripsi belom kelar juga, badan sakit-sakit.. aduuh biyuung opo iki !.. ono opo sebenere.. yen urip kudu ono perjuangane…

KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL

June 10th, 2005 by kimud

(untuk adinda: Khaerunisa)

Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil

Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar

: aku bertanya pada diri sendiri

benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi

Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri

: sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong

Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku

Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli

: aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya.
Ini negeri melimpah, gemerlap.
Ini negeri cinta

Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini

Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya

Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.

: aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil

(Abdurahman Faiz, 7 Juni 2005)

T A T I N

June 7th, 2005 by kimud

Tatin itu temen baruku. Tadi pagi aku melihat keceriaannya turun dari angkot Sumedang-Cileunyi. Mengenakan gaun berwarna coklat muda, berkerudung putih. Saat kutatap, ada senyum khas persahabatan menyapaku lalu dibalas dengan senyum yg lekat seraya memanggil untuk singgah sejenak ditempatku. Ditempatku ?! .. ditempat yg mana ?.. aku gak punya tempat tinggal. Aku hanya, perantau jalanan  yang biasa menyandarakan pungguh lalu tertidur untuk menghilangkan letih dimanapun berada.
Tapi saat kutatap kerling bola matanya, Aku merasakan ia singgah ditempatku.. tempat dimana tidak hanya dibentuk oleh tembok, tiang dan lain sebagainya. Tapi, tempat yang dibentuk oleh jiwa dan raga. Bathin ini telah menjadi pondasi ketentraman dan kenyamanan saat bersama.
Tatin adalah sahabatku, aslinya dari Majalengka seperti aku. Cuman dia tinggal di Rajagaluh, dan aku tinggal di Jatiwangi.

Testi buat Pipit “Yuliana”, Riau

May 29th, 2005 by kimud

Saat senja mulai tiba. Beterbangan burung-burung merpati mengepak sayap 13296466035329l menuju arah timur. Awan perlahan bergerak menghalangi sinar matahari yang meredup. Sore itu kulihat langit berwarnakan jingga. Memberikan warna-warni untuk keindahan alam menjelang malam. Dari jarak yang paling jauh, kupandangi matahari yang terasa cantik dibanding siang hari yang teriknya bagai padang pasir. Disini Aku merasa betah. Berdiri mematung dan terus memandanginya.

Dalam pandangan hening kutemukan ketentraman bathin, angin yang berhembus mendinginkan kebuntuan berfikir. Segala kegelisahan, keputus asaan tenggelam bersama matahari yg ditelan bumi.

Usai maghrib, lampu-lampu di Jatinangor padam. Listrik mati ?!, serentak ada kekecewaan nampak pada wajah yang hilang dalam gelap, hanya terdengar suara keluhan. njrit ! word gw blom di save!.. fs gw belom di log out !.. ampun dah ! lagi download !.. sumpah serapahpun banyak terucap untuk jatinangor yg suka mati lampu mendadak, mirip adegan film hollywood suasana menjadi ribut.

Tapi malam itu, malam yang cukup mengesankan. Sesudah listrik kembali hidup, Pipit ma Icha manda datang. Tampak dari wajahnya ada aura kelelahan terpoles dalam keceriaan dan senyum khas Pipit. Dari sana kita mulai berkenalan, dengan diawali oleh film-film klasik dan indi di Batu Api sampai dengan Pesantren Semiotik lewat buku karya Eriyanto "Analisis Framing" di IAIN SGD Bandung. Lalu kenalan ma Icha Manda. Weh senangnya punye kenalan baru !.. hehehehehe… Tapi emang klo ngobrol ma Pipit pasti nyambung. Soalnya, temen-temennya itu adalah temen-temen gw juga di capoeira. Hmm… Pit, ayoolaah main capoeira !.. gak masalah mau belajar ma siapa ajah, yg jelas: capoeira e capoeira.

testi 4 Hidayah

May 26th, 2005 by kimud

1015093632745lMalam nan sepi, hanya terdengar desah angin malam dalam kesunyian. Dinginya malam oleh kabut gunung geulis menyebar rata sampai keperkampung pelosok jatinangor, sampai kampus-kampus dengan rimbun disekitarnya pepohonan yang bergerak-gerak mengikuti arah mata angin berhembus. Dalam keremangan bulan menitik air mata suci kekhusyuan menghadap sang maha kuasa, berdialog penuh kelembutan dan memohon untuk eratnya persaudaraan kaum muslimin dan muslimat dalam ikatan ukhuwah Islamiyyah.
Malam semakin pekat, suara gemercik air jelas terdengar, lirih lagu yg berdendangkan nostalgia era tahun 70an mengingatkan pada kisah romantis Romie dan Juliet.

Malam ini Aku masih memijit-mijit keyboard membentuk kalimat dalam uraian kata yang menyambung. Sungkan untuk meninggalkan malam karena rasa ingin mengeluarkan seluruh pikiran dalam benak untuk shohibku yg saya hormati, Hidayah. Seluruh do’a kupanjatkan semoga kita bisa menjalin persaudaraan dalam persahabatan.

Jalannya gontay, mengenakan busana muslimah dengan corak dan warna matching. Walau panas terik matahari menyengat kulit, namun saat berpapasan wajah ada senyum khas sedap dipandang mata membuat suasana yang panas menjadi dingin, hati yang gelisah terasa damai. Beruntung orang bisa menjadikan tambatan dan penata hati.

Intonasi suaranya lirih bernada malayu serumpun dengan bahasa Indonesia. Rasa persahabatanpun dimulai dengan bercakap-cakap penuh dengan akrab dan rasa persaudaraan. Aku memiliki rasa persahabatan yang kental, semoga abadi dan bisa kutemui pada yang lainnya. Berulang-ulang… Amiin !..

cinta jatinangor

May 25th, 2005 by kimud

Malam hari jam 08.30 sampai di Jatinangor. Bus Bhineka yg kutumpangi sudah berlalu dengan kencang meninggalkan kelengangan jatinangor. Angin malam yang terasa dingin bertiup, lampu-lampu jalan berpijar menerangi sekelilingnya, bayangan orang yang berjalan ditrotoar mengingatkan pada kesadaran bahwa Aku sudah sampai di Jatinangor. Entah kapan aku bisa meninggalkan Jatinangor. Sebuah pertanyaan yang sulit aku jawab. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari emosi yang tiba-tiba meledak karena dorongan asmara, cita-cita dan lain sebagainya. Jawabannya, hanya tatapan mata menerawang ke langit penuh bintang, nampak rembulan yang redup terhalang oleh awan. Dibalik gedung STPDN ada segerombolan kelelawar yang terbang dibawah sinar matahari. “budak leutik bisa ngapuung, babakuna pungna peuting, nguriling kakalayangan…” nyanyian itu begitu akrab terdengar walau sebenarnya hanya sepi. Nyanyian yg biasa didendangkan dalam budaya pedesaan, saat memomong bayi atau anak kecil untuk malam panjangnya. Rasa harupun menyeruak, teringat masa-masa kecilku bermain petak umpet dibawah sinar rembulan mengejar bayang-bayang sendiri.
Langkah kaki ini terasa berat, pikulan bathin yang menindih jiwa menyesakkan dada surut kembali ke Tempat kelahiranku dan berkeluh kesah tentang hidup di perantauan.

Tak Ada Mahluk Yang Sempurna

May 16th, 2005 by kimud

Untuk alam yang diciptakan oleh Tuhan, aku berterimakasih atas suasana dan kenyamanan hati yang menderita, berfikir dan terus berfikir, ia membawa pesan yg begitu dalam. Untuk Tuhan yang telah menciptakan Aku dan seisi bumi ini, aku bersyukur bisa hidup untuk menikmati alam dan segala isinya, bersyukur pula telah dibedakan dengan binatang, sebuah otak dan pikiran.
Usai latihan di gor pakuan UNPAD, bersama Dundee dan Mira pulang. Setelah menunggu sampai sholat Isya usai. Kami disana bercerita berbagai macam pengalaman dari buku yang sedang kubaca sampai dengan rasa bersalah terhadap teman-teman, terutama teman Yuri yang lama menghilang entah kemana perginya sobatku ini.
Sampai di Kubus, suasana curhat bareng temanku masih terasa. Dinginnya  gunung geulis menajamkan intuisi naluriku untuk selalu introspeksi dan introspeksi. Tak ada yang mesti disesali, toh sudah berlalu, sekarang hanya tinggal berbenah dan berbenah !..
Tapi itu saja tidak cukup. Sesampai dikubus, temanku mengajakku berdialog. Memberikan masukan-masukan dan kritik. Perubahan yg ada pada diriku demikian drastis, sehingga aku tak mampu lagi mendengar. Mendengar keluhan !.. mendengar masukan !.. kali ini aku sadar, aku harus mendengarnya dan menerimanya, lalu merubahnya.
Tuhan !.. jika aku ini adalah pelaku sejarah berikanlah dorongan sekalipun hanya sedikit.

Aku Lagi Jatuh Cinta

May 7th, 2005 by kimud

Hatiku bersemi
Jiwaku menari-nari
jantungku melonjak-lonjak girang
mulutku selalu saja tersenyum
tersenyum dan tersenyum
dunia yang pengap ini serasa jadi romantis

tuk yg tercinta

May 4th, 2005 by kimud

titip salam buat ayah tercinta
mohon maaf tak juga berkirim doa
untuk keselamatannya dan damai disisi yang kuasa
untuk ayah yg kurindukan
aku berharap engkau memaafkanku
atas kesalahan dan kekeliruan memahami sikapmu
untuk ayah tercinta
jemput aku saat kembali menghadap

Hidupku

April 28th, 2005 by kimud

tak terasa hari berganti hari, waktu bergulir terus sampai terlena, lupa bahwa saat ini sudah berganti waktu.
Hidupku masih dalam tepian yang melihat kedepan dengan jurang terbelalak menantang. Tak kuasa kumelihatnya, tak henti rasa penasaranku bertambah dan bertanya, "akankah aku berhenti dan mengucapkan selamat tinggal untuk perjalanan ini?"
Aku tak bisa meramalkan masa depanku, kalimat dulu swaktu smu pernah kubaca adalah "masa depan adalah konsekwensi logis dari masa sekarang" masih kubaca, kuingat dan kupahami. Aku tak bisa lari dari hidupku sekarang ini.
Waktu aku masih aktif di organisasi, mungkin aku melihat sisi dunia dari bathinku, dari hasil bimbingan para senior, para rohaniawan, atau teman2ku untuk menjalankan hidup dengan sesuai jalur yg telah di tetapkan antara yang boleh dan yang tidak, antara yang halal dan haram.
Tapi .. untuk sekarang ini tidak lagi. Aku sudah pergi jauh.. melanglang.. dan pergi meninggalkan masa laluku yang terstruktur dan rapih. Aku kini berantakan, jeprut dan tak tahun 180 derajat aku berubah. Mungkin yang tidak berubah adalah Aku masih menuhankan Allah SWT.